EtIndonesia. Setelah lulus kuliah, aku bekerja di sebuah perusahaan ekspor-impor di Suzhou, ditempatkan di bagian administrasi. Tugasku sehari-hari adalah pekerjaan remeh seperti mengetik, menggandakan dokumen, dan merapikan arsip. Aku berusaha bekerja sebaik mungkin, berharap bisa benar-benar menapak di kota ini.
Karena aku pendiam dan tidak suka tampil, sehari penuh di kantor kadang hanya membuatku berkata beberapa patah kata saja. Rekan-rekanku bersikap ramah, tapi tetap menjaga jarak satu sama lain.
Suatu hari, ayah menelepon dan mengatakan ingin datang berkunjung dan tinggal beberapa hari. Aku tahu, itu hanya alasan. Ayah sebenarnya hanya ingin melihat sendiri bagaimana keadaanku: tinggal di mana, seperti apa tempat kerjaku, apakah aku punya teman.
Ibuku sudah lama tiada. Ayah membesarkanku seorang diri. Kenangan masa kecilku selalu tentang aku yang duduk di palang sepeda Phoenix miliknya, menemaninya berkeliling dari satu jalan ke jalan lain menjual tahu.
Di kota ini, aku tidak punya teman. Bagaimana aku bisa membuat ayah merasa tenang? Setelah berpikir lama, aku memutuskan untuk meminta bantuan bosku.
Sepanjang hari itu, aku diam-diam mengamati gerak-geriknya. Aku yakin dia tak mengenaliku. Lalu bagaimana aku harus mulai berbicara? Akankah dia menyetujui permintaan yang terdengar konyol ini? Aku sangat gugup, dan baru saat jam kantor hampir berakhir aku memberanikan diri mengetuk pintu kantornya.
Itu adalah pertama kalinya, setelah bekerja lebih dari setengah tahun, aku masuk ke ruangannya.
Begitu aku masuk, dia tampak agak bingung dan bertanya: “Kamu dari bagian mana?”
Aku sangat malu, dengan gugup dan terbata aku memperkenalkan diri. Melihat wajahku yang memerah, dia tersenyum dan berkata: “Tenang saja, sampaikan pelan-pelan.”
Aku terdiam sejenak, lalu berkata : “Saya ingin meminta satu hal: bisakah Anda mengundang ayah saya makan malam, atau setidaknya ada perwakilan dari perusahaan yang bersedia melakukannya, dengan nama perusahaan?”
Aku memberanikan diri menceritakan hubunganku dengan ayah—betapa dia khawatir aku akan menderita hidup di luar kampung halaman, padahal aku baik-baik saja, pekerjaan stabil, atasan dan rekan kerja juga baik… Karena gugup, mukaku semakin merah.
Takut dia menolak, aku buru-buru menambahkan: “Tentu saja, untuk biayanya… saya yang akan tanggung sendiri.”
Sebelum aku menyelesaikan kalimatku, Bos menjawab: “Jumat malam kita makan bersama, bagaimana?”
Aku tertegun sejenak, lalu dengan sangat bersemangat berkata “Bisa, bisa sekali! Hari apa pun saya siap.”
Dia tersenyum: “Kalau begitu, kamu ambil beberapa hari cuti. Ajak ayahmu jalan-jalan keliling kota. Nanti saya suruh sopir antar-jemput kalian, pakai mobil kantor saja.”
Aku buru-buru menolak: “Tidak usah, sungguh tidak perlu… Terima kasih banyak.”
Karena bingung harus berkata apa lagi, aku hanya bisa menunduk dan memberi hormat dengan membungkuk dalam.
Hari Jumat sore sebelum pulang kerja, sopir perusahaan datang mencariku. Dia menemaniku ke stasiun untuk menjemput ayah dan langsung mengantarnya ke hotel. Ketika menyebutkan nama hotel, aku terkejut—itu adalah salah satu hotel paling mewah di kota ini. Aku bahkan belum pernah masuk ke dalamnya.
Malam itu, kami menikmati makan malam yang bukan hanya mewah, tapi juga sangat hangat. Hidangan lezat disajikan, bosku membawa minuman terbaik, dan para manajer perusahaan turut hadir. Banyak dari mereka sebenarnya tak mengenalku. Biasanya, kami hanya saling angguk di lorong. Tapi malam itu, mereka semua bersikap sangat akrab—memuji tulisanku di laporan, menyebut bahwa aku selalu datang paling pagi ke kantor. Kami semua berbincang, tertawa, dan menemani ayahku minum hingga dia merasa puas.
Selama dua hari berikutnya, sopir perusahaan datang menjemput kami setiap pagi di depan rumah kontrakanku, membawa kami berkeliling menyusuri kota yang indah ini.
Dua hari kemudian, ayah berkata bahwa dia sudah membeli tiket pulang. Dia mengaku, awalnya dia memang sangat khawatir dan berniat tinggal lebih lama. Tapi setelah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa aku hidup dengan baik, hatinya tenang, dan dia merasa sudah bisa pulang dengan lega.
Setelah ayah pergi, aku bersiap menemui bos untuk mengucapkan terima kasih. Tapi belum sempat aku mencarinya, bos lebih dulu mengadakan rapat umum perusahaan.
Di tengah rapat, dia menyebut namaku. Dia mengawali dengan permintaan maaf karena selama ini kurang mengenal aku dan para karyawan lain yang “diam-diam” seperti aku.
Lalu dia berkata: “Saya ingin berterima kasih atas permintaan sederhana yang diajukan oleh karyawan kita ini. Karena dari situ saya sadar, bahwa perusahaan bukan hanya tempat mencari uang. Perusahaan harus menjadi sebuah keluarga. Di samping kerja keras, persaingan, dan keuntungan—yang juga penting adalah rasa peduli, saling memahami, dan kehangatan.”
Sambil berkata begitu, bosku berdiri dan membungkuk memberi hormat kepada semua karyawan.
Di tengah tepuk tangan yang panjang dan tak kunjung berhenti, aku menangis. Karena begitu hangatnya perasaan yang menyelimuti hari itu.
Sejak saat itu, aku berubah. Aku jadi lebih bersemangat, lebih terbuka, lebih aktif. Atmosfer di perusahaan pun berubah. Tak lagi kaku dan formal seperti dulu. Hubungan antarkaryawan menjadi hangat dan saling peduli, seperti keluarga.
Tahun 2009, saat krisis finansial melanda dunia, banyak perusahaan ekspor-impor bangkrut atau merugi besar. Tapi perusahaan kami tidak hanya bertahan, malah mencetak keuntungan kecil.
Tiga tahun setelah makan malam itu, aku yang dulu hanyalah staf administrasi biasa, kini telah menjadi manajer pemasaran perusahaan.
Aku selalu menyimpan kenangan ini dalam hati. Dan setiap kali ada karyawan baru masuk, aku selalu menceritakan kisah ini.
Aku hidup dengan prinsip: “Kekuatan kasih sayang dan perhatian tulus, selalu mengalahkan segalanya.”
Sampai hari ini, semua orang di perusahaan sepakat: Itu adalah pelajaran terbaik dalam hidup mereka. (jhn/yn)


